Pramuka Jadi Garda Demokrasi! Bawaslu Kota Magelang Galang Saka Adhyasta Cetak Pengawas Pemilu dari Pemilih Pemula
|
Kota Magelang, Menjaga demokrasi bukan hanya tugas penyelenggara pemilu semata. Semangat itulah yang terus digelorakan Bawaslu Kota Magelang dengan menggandeng Gerakan Pramuka melalui wadah Saka Adhyasta Pemilu, sebuah gerakan pendidikan demokrasi yang menyiapkan pemilih pemula menjadi pengawas partisipatif masa depan.
Pesan tersebut mengemuka dalam podcast bertajuk "Pramuka Mengawasi Demokrasi: Mengenal P2P Bawaslu dan Saka Adhyasta", yang dipandu oleh Kakak Diany Sukma Pratiwi, S.H. selaku host dan menghadirkan Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kota Magelang, Kakak A. Zakariya, S.H.I., C.Med., sebagai narasumber.
Dalam dialog yang berlangsung hangat dan komunikatif tersebut, Zakariya menegaskan bahwa pengawasan pemilu tidak dapat dilakukan sendiri oleh Bawaslu.
"Demokrasi akan semakin kuat ketika masyarakat ikut menjadi penjaganya. Karena itu, Bawaslu menghadirkan Pendidikan Pengawas Partisipatif atau P2P sebagai ruang belajar bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar mampu ikut mengawasi jalannya demokrasi," ujarnya.
Menurutnya, P2P bukan sekadar program pelatihan biasa, melainkan gerakan pendidikan yang bertujuan membangun kesadaran bersama bahwa menjaga integritas pemilu adalah tanggung jawab seluruh warga negara.
Saka Adhyasta, Kawah Candradimuka Pengawas Demokrasi Muda
Dalam kesempatan itu, Zakariya menjelaskan bahwa Saka Adhyasta Pemilu merupakan wadah pendidikan kepramukaan yang dikembangkan Bawaslu untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi, kepemiluan, dan pengawasan partisipatif kepada generasi muda.
"Kalau di Pramuka kita belajar tentang disiplin, kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat, maka di Saka Adhyasta ditambah dengan semangat menjadi warga negara yang peduli dan aktif mengawal demokrasi," katanya.
Ia menilai, Gerakan Pramuka memiliki kesamaan nilai dengan pengawasan pemilu, yakni kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Karena itu, Pramuka menjadi mitra strategis Bawaslu dalam membangun budaya demokrasi yang sehat.
Fokus Cetak Pemilih Pemula Menjadi Agen Pengawasan
Pada tahun 2026, peserta Pendidikan Pengawas Partisipatif difokuskan kepada anggota Saka Adhyasta dan pemilih pemula di masing-masing kabupaten/kota.
Menurut Zakariya, generasi muda dipilih karena memiliki potensi besar sebagai agen perubahan.
"Mereka aktif, kreatif, dekat dengan teknologi, dan akan menjadi penentu masa depan demokrasi Indonesia. Harapannya, setelah mengikuti P2P, mereka dapat menjadi pelopor pendidikan demokrasi di sekolah maupun komunitasnya masing-masing," ungkapnya.
Secara nasional, program ini menargetkan lebih dari 19 ribu peserta, sementara di tingkat kabupaten/kota rata-rata diikuti sekitar 40 peserta.
Belajar Demokrasi dengan Cara Kekinian
Berbeda dengan pelatihan konvensional yang identik dengan suasana formal dan membosankan, P2P dirancang secara interaktif dan modern. Peserta diajak belajar mandiri melalui materi audio visual dan e-modul selama satu minggu sebelum memasuki sesi diskusi tatap muka.
"Agar ketika bertemu dalam forum, peserta sudah memiliki pemahaman awal. Jadi diskusinya lebih hidup dan tidak mulai dari nol," terang Zakariya.
Materi yang diberikan pun sangat aplikatif, mulai dari teknik pencegahan pelanggaran pemilu, tata cara pelaporan dugaan pelanggaran, pengawasan digital, penguatan komunitas, hingga membangun gerakan pengawasan partisipatif.
Bahkan, setelah pelatihan selesai, peserta diwajibkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bentuk aksi nyata di lingkungan masing-masing.
Dari Melawan Hoaks hingga Berani Melapor
Di akhir dialog, Zakariya menyampaikan pesan kepada anggota Saka Adhyasta dan seluruh alumni P2P agar tidak berhenti hanya pada kegiatan pelatihan.
"Jadilah pelopor demokrasi. Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti melawan hoaks, mengajak teman menjadi pemilih cerdas, menjaga ruang digital tetap sehat, hingga berani melaporkan dugaan pelanggaran jika menemukannya," pesannya.
Ia menegaskan, demokrasi yang sehat tidak lahir dari masyarakat yang apatis, melainkan dari warga negara yang mau belajar, peduli, dan bergerak.
Melalui gerakan Saka Adhyasta, Bawaslu Kota Magelang berharap lahir generasi muda yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk menjaga keadilan pemilu dan mengawal demokrasi Indonesia.
Salam Pramuka! Salam Pengawasan!
Bersama Rakyat Awasi Pemilu, Bersama Bawaslu Tegakkan Keadilan Pemilu.
Penulis : AQZ