Bukan Sekadar Mesin Pengawas, Bawaslu Kota Magelang Tegaskan Pentingnya Rawat Psikologis Staf
|
Kota Magelang – Di tengah padatnya dinamika dan tuntutan tugas pengawasan, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Magelang menyelenggarakan kegiatan Penguatan Kapasitas Kelembagaan dengan tema "Menjaga Kesehatan Psikologis & Mengelola Stres di Lingkungan Kerja" pada Kamis, 22 Oktober 2026. Acara yang dikemas dalam bentuk Rapat Dalam Kantor (RDK) ini bertujuan membekali para staf di Bawaslu Kota Magelang, dengan keterampilan mengelola kesehatan mental agar tetap produktif dan tangguh menghadapi tekanan kerja.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Anggota Bawaslu Kota Magelang, Sylvia Ayu Paramita. Dalam pidato pembukaannya, Sylvia menekankan bahwa beban kerja, baik urusan pribadi maupun kantor, kerap saling beririsan dan memengaruhi kenyamanan batin staf. Ia juga membagikan pengalaman pribadinya saat menghadapi stres tinggi di awal masa jabatannya pada Pemilu sebelumnya, yang berdampak pada kesehatan fisiknya (tipes berturut-turut) hingga memengaruhi manajemen waktu keluarga.
"Beban hidup dan pekerjaan tidak semakin mudah. Melalui kegiatan ini, kita berharap dapat mengurai permasalahan psikologis tersebut dan mendapatkan pencerahan, karena kita semua di sini awam soal kesehatan mental," ujar Sylvia.
Hadir sebagai narasumber utama adalah Angelica Pradita Adelide Lakaseru, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Puskesmas Magelang Selatan, dengan dipandu oleh Luluk sebagai moderator. Dalam sesi pemaparannya yang bertajuk "Kerja, Jeda, dan Bertumbuh", Mbak Dita (sapaan akrab narasumber) menjelaskan bahwa stres tidak selalu berdampak negatif; ada eustress yang justru memacu produktivitas. Namun, yang perlu diwaspadai adalah distress, yakni stres yang menumpuk hingga memicu gangguan fisik (tegang otot, asam lambung, gangguan tidur) dan emosional (sensitif, cemas, menarik diri).
Mbak Dita memaparkan beberapa pemicu utama stres di lingkungan kerja Bawaslu, seperti beban kerja yang menumpuk saat tahapan pemilu, tugas mendadak, masalah komunikasi dan koordinasi tim, ekspektasi kerja, hingga kesulitan memisahkan urusan pekerjaan dengan kehidupan pribadi.
Untuk menghadapi situasi tersebut, Mbak Dita membekali peserta dengan teknik "STOP":
S (Sadari): Mengenali kondisi emosi, pikiran, dan sensasi tubuh yang mulai tegang.
T (Tarik Napas): Mempraktikkan mindfulness breathing dengan pola 4 hitungan menarik napas, 5 menahan, dan 6 menghembuskan napas (4-5-6) untuk meredakan kecemasan.
O (Olah Pikiran): Mengubah sudut pandang menjadi lebih positif berdasarkan fakta dan menyusun prioritas tugas.
P (Pilih Tindakan Sehat): Mengambil respons yang adaptif tanpa mengabaikan kebutuhan diri dan pekerjaan (misalnya: mengambil jeda atau meminta bantuan).
Selain teknik STOP, Mbak Dita juga menekankan pentingnya self-care (merawat diri), melakukan journaling (menulis buku bersyukur dan buku tempat sampah untuk meluapkan emosi), hingga berolahraga, guna menekan hormon kortisol (hormon stres) dan meningkatkan produksi hormon bahagia. Ia menegaskan bahwa mengeluarkan emosi (termasuk marah) itu sehat, selama mematuhi tiga syarat utama: tidak menyakiti diri sendiri, tidak merugikan orang lain, dan tidak merusak lingkungan.
Pada sesi diskusi yang hangat, Mbak Dita juga menghapus stigma negatif mengenai kesehatan mental. Meminta bantuan ke psikolog atau psikiater, jelas Mbak Dita, bukanlah tanda kelemahan iman, melainkan wujud kepedulian terhadap diri sendiri. Ia juga mengingatkan pentingnya membangun lingkungan kerja yang saling mendukung, menjaga komunikasi, mengatur beban kerja, dan menjaga ucapan sesama rekan kerja, karena setiap orang memiliki batas ketahanan mental yang berbeda.
Penulis : Humas